• Pasang Iklan
Jumat, 17 April 2026
Zona Jatim
Advertisement
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Ekonomi Bisnis
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Ekonomi Bisnis
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
Zona Jatim
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Siapa Bilang Muhammadiyah Tenang-tenang Saja?

ZonaJatim00 by ZonaJatim00
20 Februari 2025
in Uncategorized
0
Siapa Bilang Muhammadiyah Tenang-tenang Saja?
0
SHARES
37
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Zonajatim.com, Sidoarjo – Gambaran masyarakat tentang Muhammadiyah itu sebagai organisasi yang sangat tenang, adem ayem, tidak ada gejolak konflik. Tak pernah terdengar sesama tokohnya saling menghujat, membuka aib, apalagi sampai pecat-pecatan, tanding-tandingan.

Gambaran itu sepenuhnya benar jika hanya melihat yang tampak di permukaan. Tapi kalau melihat arus dalam, sebebarnya gejolaknya cukup keras. Jadi ibarat sungai, arus atasnya tenang tetapi arus dalamnya bergelombang.

Anwar Hudijono, jurnalis senior dalam bukunya “Betapa Tuhan Sayang Muhammadiyah Tapi….” Terbitan UMMPress Januari 2025, mengungkap dengan blak-blakan gelombang arus dalam itu.Ia mencontohkan, konfik politik menjelang Pilpres 2014.

Aspirasi politik di kalangan warga Muhammadiyah terbelah jadi dua. Satu kelompok yang dimotori Prof Amien Rais mendukung Capres Prabowo Subianto. Satu kelompok lagi yang dimotori Prof Malik Fadjar mendukung Jokowi.

Polarisasi ini memantik konfik yang sangat keras sampai di tingkat akar rumput. Hal serupa berulang di Pilpres 2019. Pada Pilpres 2024 walau tidak sekeras sebelumnya tetapi konflik juga terjadi. Arus dukungan mengalir ke tiga capres yang ada, Prabowo, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Konflik-konflik itu tidak sampai berdampak pada keretakan organisasi.

Anwar Hudijono melihat salah satu faktor yang meredusir konflik itu adalah kepemimpinan KH Haedar Nashir yang teguh menjaga khittah Muhammadiyah. Yaitu Muhammaadiyah tidak masuk ranah politik praktis. Tidak terlibat politik dukung mendukung. Ia mengibaratkan Haedar itu pohon ara di tengah prahara.

Kalau saja Haedar sebagai Ketua Umum PP bersikap miyar-miyur, kanan kiri oke, apalagi menjadikan Muhammadiyah sebagai kuda tungganan calon tertentu, bisa jadi Muhammadiyah sudah pecah berantakan.

Kalau toh secara kelembagaan formal tidak terpecah, tetapi secara substansial retak. Ketika organisasi kehilangan sebagian khittahnya berarti secara sudan batal.

Secara khusus Anwar Hudijono menyorot eksistensi Haedar Nashir ini sebagai bagian dari indikator betapa Tuhan sayang kepada Muhammadiyah. Sayang Tuhan itu dIrealisasi dengan memberi pemimpin yang baik pas dengan kebutuhan dan momentumnya.

Tesis ini merupakan mafhum mukhalafah (kebalikan) dari tesis yang didasarkan Hadits bahwa jika Allah menghukum suatu masyarakat akan diberi pemimpin yang buruk.

Kemunculan Haedar pada momentumnya. Saat dia muncul Muhammadiyah mengalami politisasi yang sangat dahsyat akibat Ketua Umum sebelumnya Dien Syamsuddin, langsung atau tidak langsung, memanfaatkan euforia politik warga Muhammadiyah menjadi kendaraan politiknya. Termasuk mendirikan Partai Matahari Bangsa.

Euforia ini terjadi sejak Ketua Umum PP Muhammadiyah Amiem Rais menjadi lokomotif reformasi menumbangkan Presiden Soeharto tahun 1998. Kemudian mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN). Umat Muhammadiyah yang sudah lama apatis dalam politik, termarginsalisasI, tiba-tiba seperti air bendungan yang jebol.

Di sini Tuhan mengulurkan tangan-Nya menolong Muhammadiyah agar tidak terseret arus deras politik yang banyak madlaratnya. Agar tidak terkooptasi PAN. Tidak dijadikan instrument transaksional. Rasa sayang Tuhan, blessing indisguise, itu ditakdirkan dengan keputusan Amin Rais yang mundur dari Ketua Umum PP Muhammadiyah karena memilih menjadi Ketua Umum PAN.

Padahal kalau saat itu Amien merangkap jabatan sangat mungkin terjadi karena saat itu dia sangat kuat. Tuhan mengizinkan Buya Syafii Ma’arif menggantikan Amien kemudian terpilih lagi di Muktamar.

Kemunculan Buya pada momentum yang tepat. Dia itu ibarat tembok karang yang tetap tegak kokoh di tegah gempuran gelombang. Dia bisa mengendalikan arus euforia warganya. Menyelamatkan Muhammadiyah dari kooptasi politik.

Anwar Hudijono, wartawan Kompas 1984-2012 dan Premimpin Redaksi Surya 2003-2004 ini, mengungkap, di samping campur tangan Tuhan, gelombang konflik tidak membuat Muhammadiyah terpecah-pecah juga karena pengaruh kultur Jawa yang sangat kuat. Bukankah Muhammadiyah lahir di Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat kultur Jawa.

Pada dasarnya, menurut dia, kultur Jawa itu antikonflik. Cenderung mengutamakan harmonisasi. Maka diekspresiikan memilih diam, menahan diri, ngalah demi menghindari konflik.

Selai itu, para pendulu Muhammadiyah mewaruskan asketisme, ketarekatan. Misalnya akan menghidari kegaduhan, kehingar-bingaran yang tak perlu. Istilah tokoh Muhammadiyah tahun 1980-an Drs Lukman Harun, pantangan di Muhammadiyah itu lepas kolor di depan khalayak.

Pertanyaannya adalah apakah generasi penerus masih mewarisi nilai-nilai pedulunya?

Previous Post

Subandi-Mimik Idayana Resmi Dilantik, Siap Akselerasi Bangun Sidoarjo

Next Post

Komisi D DPRD Sidoarjo Merekomendasikan Kisruh KONI dan Disporapar Dibawa ke Bupati Subandi

Next Post
Komisi D DPRD Sidoarjo Merekomendasikan Kisruh KONI dan Disporapar Dibawa ke Bupati Subandi

Komisi D DPRD Sidoarjo Merekomendasikan Kisruh KONI dan Disporapar Dibawa ke Bupati Subandi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

  • Ikuti Rakornas Sentul Bogor, Wabup Mimik Idayana Diperlakukan Tak Mengenakkan Protokol Pemkab Sidoarjo

    Ikuti Rakornas Sentul Bogor, Wabup Mimik Idayana Diperlakukan Tak Mengenakkan Protokol Pemkab Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Subandi Dilaporkan Bareskrim Polri Dugaan Korupsi Proyek Pipa PDAM Delta Tirta Rp 16 M, Penyidik Klarifikasi Dewas Fenny Apridawati dan Andjar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Sidoarjo Tidak Ngantor, Diduga Menghadiri Pemanggilan Penyidik Bareskrim Polri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wabup Sidoarjo Hj Mimik Idayana Buka Open House Lebaran 1447 H, Warga Diajak Silaturahmi Tanpa Sekat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lobby Wabup Hj Mimik Idayana, Pemerintah Pusat Kucurkan Rp 84 Miliar Lanjutan Betonisasi Jl Lingkar Timur Prasung – MPP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Pedoman Media Siber
  • Pasang Iklan
  • Susunan Redaksi
© 2020 ZonaJatim.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Ekonomi Bisnis

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In