• Pasang Iklan
Minggu, 19 April 2026
Zona Jatim
Advertisement
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Ekonomi Bisnis
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Ekonomi Bisnis
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
Zona Jatim
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Malang, Perguruan Tinggi Modern Berbasis Tradisi Agung

ZonaJatim00 by ZonaJatim00
14 Maret 2025
in Pendidikan
0
Universitas Muhammadiyah Malang, Perguruan Tinggi Modern Berbasis Tradisi Agung
0
SHARES
37
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Zonajatim.com, Malang – Civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergejolak resah. Pasalnya, menyeruak isu terjadi perpecahan antara Prof A Malik Fadjar dan Muhadjir Effendy.

Gaung isu ini layaknya dentangan lonceng kematian. Kalau keduanya pecah kongsi, UMM bisa kiamat kubro. Karena bagi UMM keduanya itu seperti jantung dan paru-paru pada satu tubuh. Bisa dibayangkan jika jantung dan paru-paru sudah tak kompak lagi, ke mana lagi kalau tidak wassalam.

Kedua figur ini, bagi warga akademis UMM, dianggap kunci sukses membangun kesejarahan UMM dari sangat marginal dengan jumlah mahasiswa sekitar 800 orang sehingga UMM dijadikan akronim Universitas Morat Marit. Kemudian tumbuh menjadi Universitas Murah Meriah. Sampai akhirnya memiliki 37 ribu mahasiswa dan kampus megah eksotik. Menjadi salah satu perguruan tinggi swasta Islam terkemuka di tataran global. Disebut UMM berarti Universitas Magang Manteri.

Keduanya menjadi legenda UMM. Sampai-sampai UMM berarti pula Universitas Malik Muhadjir. Kedua figur ini memang memiliki hubungan super spesial. Mereka seperti bapak dan anak. Malik adalah dosen pembimbing Muhadjir di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang. Pada waktu Malik menjadi Rektor UMM, Muhadjir menjadi Wakil Rektor.

Muhadjir merunut jejak langkah Malik. Menggantikan Malik sebagai Rektor UMM. Dari rektor UMM, Malik menjadi Menteri Agama pada pemerintahan Presiden BJ Habibie. Kemudian menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Presiden Megawati. Setelah itu menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) di era Presiden Jokowi-JK.

Sedang Muhadjir dari Rektor UMM menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa pemerintahan Jokowi-JK. Kemudian menjadi Menteri Koordinator BIdang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin. Setelah itu jadi Penasehat Khusus Presiden untuk urusan haji pada era Presiden Prabowo.

Di dalam lingkup perguruan tinggi swasta (mungkin juga PTN) hanya UMM yang menorehkan sejarah dua mantan rektornya menjadi Menteri dua periode. Stigma Unversitas Magang Menteri semakin kuat karena mantan rektor berikutnya Prof Dr Fauzan menjadi Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi pada masa Presiden Prabowo.

Membangun Hotel

Drama isu pecah kongsi Malik-Muhadjir itu diungkap Anwar Hudijono dalam bukunya “Betapa Tuhan Sayang Muhammadiyah, Tapi….” Yang dirilis Januari 2025. Dalam buku setebal 353 plus xliii terbitan UMMPress memang UMM menjadi salah satu topik bahasan.

Diceritakan, isu pecah kongsi itu dipantik oleh rencana Rektor UMM Prof Muhadjjir Effendy yang hendak mendirikan hotel di depan Kampus III. Terinspirasi perguruan tinggi di Amerika, Muhadjir ingin UMM memiliki unit usaha sebagai sumber dana agar tidak tergantung pada SPP mahasiswa, bantuan pemerintah dan asing.Malik tidak setuju. Ia ingin agar UMM fokus ke Pendidikan sebagai core-nya. Perbedaan sikap inilah yang kemudian memantik gejolak keresahan civitas akademika UMM.

Tapi bagi warga civitas akademika yang mafhum nilai-nilai dasar dan tradisi UMM, tidak kaget. Apalagi sampai resah dan membayangkan kiamat segala. Itu hanya perbedaan pemikiran. Itu hal yang biasa. Perbedaan itu sunatullah. Dan sunatullah itu tidak akan berubah atau bergeser selama-lamanya. Jadi bersifat abadi atau parennial dan immutable. Karena sifatnya yang abadi itulah, maka sunatullah dapat dipedomani dan dijadikan landasan tindakan manusia dalam menjalani hidup dan menghadapi persoalan-persoalan hidup. Jadi sunatullah itu merupakan bagian dari hidayah. Ilahi,menjadi petunjuk dan pegangan menempuh hidup secara benar.

Setelah hotel berdiri Malik merasa senang. Apalagi setelah Rektor Prof Fauzan mengembangkan menjadi hotel bintang empat dan memiliki tingkat hunian yang bagus. Malik memuji Muhadjir bahwa ijtihadnya sahih.

Dengan meyakini sebagai sunatullah maka perbedaan tidak menjadi sumbu konflik. Dan mengindari konflik ini ditanamkan secara terus menerus oleh Malik sampai akhirnya menjadi salah satu bagian tradisi agung UMM. Setidaknya ada empat pilar dalam tradisi agung UMM. Yaitu keislaman, kemuhammadiyahan, keindonesiaan dan kejawaan. Keempat pilar saling memperkuat dan saling berkaitan.Jadi tradisi agung UMM itu seperti sebidang tanah yang setiap saat bertambah lapisan baru dengan lapisan baru yang mengandung unsur hara.

Lapisan baru untuk mengganti yang sudah rapuh, keropos, tergerus erosi, kekurangan unsur hara. Juga untuk mempertebal dan memperkuat lapisan lama yang sudah ada. Dengan demikian bidang tanah itu akan terjaga dan terpelihara baik volume maupun kualitas kesuburannya. Tanah yang baik adalah syarat pertama dan utama tanaman bisa tumbuh subur. Benih unggul sekalipun jika ditanam di tanah yang tandus maka tumbuhnya akan enggrik-enggriken alias mati tidak hidup tidak, kurus dan merana.

Analog konsep tradisi agung dengan bidang tanah itu terinspirasi oleh Quran, Al Araf 58.“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan, dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.

”Di atas tanah yang baik itu tumbuh pula pohon yang baik.“Tidakkah kamu memperlihatkan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seiizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (Quran, Ibrahim 24-27). (ano)

Tags: ModernPerguruan tinggiUMM
Previous Post

Kapolresta Sidoarjo Bagikan Takjil Buka Puasa ke Tahanan

Next Post

Polsek Prambon Dampingi Warga Wujudkan Swasembada Pangan Mandiri

Next Post
Polsek Prambon Dampingi Warga Wujudkan Swasembada Pangan Mandiri

Polsek Prambon Dampingi Warga Wujudkan Swasembada Pangan Mandiri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

  • Ikuti Rakornas Sentul Bogor, Wabup Mimik Idayana Diperlakukan Tak Mengenakkan Protokol Pemkab Sidoarjo

    Ikuti Rakornas Sentul Bogor, Wabup Mimik Idayana Diperlakukan Tak Mengenakkan Protokol Pemkab Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Subandi Dilaporkan Bareskrim Polri Dugaan Korupsi Proyek Pipa PDAM Delta Tirta Rp 16 M, Penyidik Klarifikasi Dewas Fenny Apridawati dan Andjar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Sidoarjo Tidak Ngantor, Diduga Menghadiri Pemanggilan Penyidik Bareskrim Polri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wabup Sidoarjo Hj Mimik Idayana Buka Open House Lebaran 1447 H, Warga Diajak Silaturahmi Tanpa Sekat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lobby Wabup Hj Mimik Idayana, Pemerintah Pusat Kucurkan Rp 84 Miliar Lanjutan Betonisasi Jl Lingkar Timur Prasung – MPP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Pedoman Media Siber
  • Pasang Iklan
  • Susunan Redaksi
© 2020 ZonaJatim.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Ekonomi Bisnis

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In