• Pasang Iklan
Selasa, 26 Mei 2026
Zona Jatim
Advertisement
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Ekonomi Bisnis
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Ekonomi Bisnis
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
Zona Jatim
No Result
View All Result
Home Nasional

Perang Diponegoro, Manifestasi Jiwa Merdeka yang Menolak Tunduk

ZonaJatim00 by ZonaJatim00
25 Juli 2025
in Nasional
0
Perang Diponegoro, Manifestasi Jiwa Merdeka yang Menolak Tunduk
0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Zonajatim.com, Jakarta — Perang Jawa atau yang biasa dikenal sebagai Perang Diponegoro, berlangsung selama lima tahun, 1825-1830. Perang Jawa mengubah Jawa menjadi medan pertarungan antara martabat dan penindasan, antara kearifan lokal dan keserakahan kolonial.

Demikian disampaikan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwana Ka 10, dalam pidato kebudayaannya pada acara puncak Peringatan 200 Tahun Perang Jawa yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Jakarta, pada Jumat (25/7/2025).

“Pangeran Diponegoro “sang pangeran-pandhita”, tampil bagai surya di tengah kegelapan, sebagai jiwa penggerak yang menyatukan rakyat dalam satu tekad: melawan,” ujarnya.

Kepemimpinan Diponegoro mencerminkan konsep Manunggaling Kawula-Gusti, yakni kesatuan antara rakyat dan pemimpin. Begitulah sejatinya hubungan ideal pemimpin dan yang dipimpin, resiprokal atau timbal balik yakni saling memberi dan menerima dalam kebersamaan tujuan.

Dalam pidato kuncinya, Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menyampaikan untuk mengusung semangat perjuangan dalam Perang Jawa, Perpusnas memilih tajuk “Martabat” sebagai tema utama Peringatan 200 Tahun Perang Jawa.

Kepala Perpusnas Aminudin Aziz dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwana Ka X

“Hakikat martabat inilah yang ingin kami wujudkan dalam kiprah Perpusnas yang diberi mandat untuk membangun kecakapan literasi melalui penguatan budaya baca, merawat bahan pustaka warisan bangsa, dan membina perpustakaan se-Indonesia Raya. Itulah hakikat visi baru kami Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa,” urainya.

Lebih lanjut, Kepala Perpusnas, memaparkan bahwa UNESCO menamakan lembaga museum, perpustakaan, arsip, pusat dokumentasi, situs, dan galeri sebagai Memory Institutions atau Lembaga (pengelola) Ingatan.

“Dalam rangka merawat ingatan kolektif bangsa tersebut, Perpusnas mencanangkan program Pemajuan Naskah Nusantara. Sebuah gagasan yang diwujudkan dalam langkah nyata yakni berupa praktik yang lebih maju daripada pengelolaan naskah sebagaimana biasanya,” terangnya.

Adapun tiga hal penting untuk menyokong suksesnya program ini adalah upaya sistematis dan terukur untuk mengisi ruang-ruang publik dengan isu pernaskahan, memungkinkan adanya akses seluasnya dan peluang penciptaan karya-karya kreatif berbasis naskah, serta memperkuat ekosistem pernaskahan melalui kemitraan dan advokasi.

Sementara itu, dalam sesi gelar wicara dengan tajuk Demi Martabat Bangsa “Refleksi Peristiwa Perang Jawa bagi Indonesia Maju”, sejarawan asal Inggris, Peter Carey, menjelaskan Pangeran Diponegoro merupakan seorang bangsawan yang mau bahu membahu bersama rakyatnya dan mendengarkan suara rakyat kecil.

Diponegoro, lanjut Peter, memiliki integritas tinggi dan tidak kenal kompromi, serta memahami bahwa memegang tanggung jawab politik bukan kesempatan tapi amanah dan keprihatinan.“On the rise and fall of a country, everyone has a responsibility, self, and family may be sacrificed but between right and wrong there can be no compromise. Hal tersebut yang dijiwai oleh seorang Diponegoro, integritas yang tinggi dan tidak kenal kompromi,” urai penulis biografi monumental Pangeran Diponegoro ini.

Sementara itu, generasi ketujuh dari Pangeran Diponegoro, Roni Sadewo, menegaskan bahwa perjuangan Diponegoro bukan semata-mata perang militer. Tetapi, perjuangan tersebut merupakan bentuk perlawanan demi mempertahankan martabat bangsa.

“Perang bukanlah hal yang disukai oleh Pangeran Diponegoro. Dalam babad yang ditulis di masa pengasingan, sangat jelas bahwa beliau ingin menjaga martabat dan menjalankan perintah agama dengan benar,” jelasnya.

Menurutnya, warisan terbesar dari Diponegoro bukan hanya jejak perangnya, melainkan nilai-nilai kejujuran, keberanian, ketegasan, dan kebijaksanaan yang diajarkan lewat tulisan dan keteladanan hidupnya.

Peneliti manuskrip Islam Nusantara, Ahmad Ginanjar Sya’ban, membenarkan hal ini. Ia menguraikan, sisi terpenting dalam kehidupan Pangeran Diponegoro yang banyak mempengaruhi karakter dan jati diri Sang Pangeran, tetapi pada masa sekarang kerap kali terlupakan adalah sisi keulamaan dan kesantrian.

“Salah satu literatur yang menjadi bacaan favorit Sang Pangeran dan membentuk karakter beliau itu satu buah karya yang berjudul al-Tuhfah al-Mursalah karya sufi agung dari Gujarat, Al-Burhanpuri dan isi ajarannya adalah mengenai Martabat Tujuh,” jelasnya.

Dosen Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, Eka Ningtyas, dalam paparannya mengatakan ketokohan Diponegoro telah mengalami transformasi dari simbol perlawanan lokal Jawa menjadi tokoh nasional yang relevan hingga saat ini. Ia menyebutkan bahwa semangat Diponegoro kini telah menjadi warisan seluruh bangsa Indonesia.

“Spirit perjuangan Diponegoro bukan sekadar warisan bagi orang Jawa, tapi bekal kepemimpinan bangsa Indonesia hari ini agar menjadi bangsa yang kuat,” terangnya.

Dalam kegiatan gelar wicara, diumumkan juga Pemenang Lomba Poster Digital 200 Tahun Perang Jawa dan Pemenang Lomba Esai 200 Tahun Perang Jawa yang diselenggarakan Perpusnas. Jok

Tags: Perang DiponegoroPerpusnasSri Sultan Hamengku Buwana X
Previous Post

Pesan Bupati Subandi pada Kajari Baru: Jabatan Adalah Amanah, Mari Terus Bangun Tata Kelola yang Bersih

Next Post

Kapsul Endoskopi Dilengkapi Kemampuan Robotik dan AI, Dr. Jaideep Singh: Endoskopi Tidak Perlu Pembiusan

Next Post
Kapsul Endoskopi Dilengkapi Kemampuan Robotik dan AI, Dr. Jaideep Singh: Endoskopi Tidak Perlu Pembiusan

Kapsul Endoskopi Dilengkapi Kemampuan Robotik dan AI, Dr. Jaideep Singh: Endoskopi Tidak Perlu Pembiusan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

  • Ikuti Rakornas Sentul Bogor, Wabup Mimik Idayana Diperlakukan Tak Mengenakkan Protokol Pemkab Sidoarjo

    Ikuti Rakornas Sentul Bogor, Wabup Mimik Idayana Diperlakukan Tak Mengenakkan Protokol Pemkab Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Subandi Dilaporkan Bareskrim Polri Dugaan Korupsi Proyek Pipa PDAM Delta Tirta Rp 16 M, Penyidik Klarifikasi Dewas Fenny Apridawati dan Andjar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Sidoarjo Tidak Ngantor, Diduga Menghadiri Pemanggilan Penyidik Bareskrim Polri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wabup Sidoarjo Hj Mimik Idayana Buka Open House Lebaran 1447 H, Warga Diajak Silaturahmi Tanpa Sekat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lobby Wabup Hj Mimik Idayana, Pemerintah Pusat Kucurkan Rp 84 Miliar Lanjutan Betonisasi Jl Lingkar Timur Prasung – MPP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Pedoman Media Siber
  • Pasang Iklan
  • Susunan Redaksi
© 2020 ZonaJatim.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Ekonomi Bisnis

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In