Zonajatim.com, Surabaya – Kinerja Walikota dan Wakil Walikota dibawah kepemimpinan Eri Cahyadi-Armuji tepatnya 26 Agustus nanti, mulai efektif memasuki waktu enam bulan yang telah ditentukan.Kota Surabaya, punya banyak pekerjaan rumah (PR) yang wajib segera diselesaikan terutama terkait mutasi atau mengisi kekosongan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang banyak dirangkap oleh pimpinan SKPD lain sehingga banyak anggapan kinerjanya tidak akan maksimal.
Meski hal tersebut adalah hak preogratif Kepala Daerah, namun masyarakat juga pantas untuk memberikan masukannya, begitupun anggota Dewan selalu lembaga pengawasan.
Terkait itu, Imam Syafi’i anggota komisi A DPRD kota Surabaya bidang pemerintahan meminta ‘profesionalisme’ dan tidak ada faktor ‘like and dislike’ (Suka dan tidak suka, red) dalam menentukan pengisian jajaran SKPD.” Saya yakin pak Eri akan melakukan perbaikan-perbaikan di internalnya, termasuk melakukan mutasi-mutasi secara profesional,” ungkap Imam, di gedung Dewan Yos Sudarso, Kamis (12/8/2021).
Menurut Legislator partai NasDem ini, hal tersebut adalah hak kepala daerah yang tentunya ingin mempunyai tim yang kuat sehingga visi misinya dapat terlaksana dengan baik.Tapi Imam mengingatkan, yang pertama jangan ada faktor like and dislike. Artinya jangan kemarin yang paling berjasa memenangkannya lantas secara otomatis akan menduduki jabatan.” Birokrasi ini bukan alat politik, tapi pelayan masyarakat. Baiknya dipilih yang paling kompeten,” tegasnya.
Kompeten dalam arti bukan hanya dilihat kapasitasnya tapi juga berdasar integritasnya.Terlihat saat ini, di Surabaya banyak kepala dinas yang rangkap jabatan atau menjabat Plt (Pelaksana tugas, red) di dinas lain. Menurut Imam, jabatan Plt merupakan hal yang merugikan masyarakat, karena tidak bisa maksimal dalam pelayanannya.” Pelaksana tugas biasanya juga tidak fokus, karena harus membagi kemampuan dan jam kerjanya,” terangnya.
Dengan adanya Plt, gerbong dibawahnya juga akan macet. ” Kasihan birokrasi yang punya prestasi tapi tidak bisa segera naik.”Karena itu Imam kembali meminta agar dalam memilih jajaran, pak Eri wajib memperhatikan profesionalisme dan kemampuan ASN yang akan dipilihnya dan kembali tidak berdasar like and dislike.
Terkait like anda dislike, dicontohkan kepala dinas DKRTH (tanpa menyebut nama, red) yang Pilkada kemarin secara kasat mata melakukan “Operasi Rahasia”. Imam menduga kepala dinas tersebut akan mendapat jabatan yang bagus.” Kalau memang yang bersangkutan diberi peran yang lebih besar, jangan semata-mata karena jasanya (Andil besar dalam pemenangan, red) tapi karena kompetensinya, yaitu kapasitas dan integritas,” tegas Imam yang mantan wartawan ini.
Dalam pemilihan kepala SKPD, Imam juga terpengaruh istilah regenerasi. ” Sekarang sudah tidak jamannya senior junior. Kalapun ada yang muda atau junior, tapi dia kompeten dan punya kapasitas melebihi seniornya, kenapa tidak diangkat. Karena biasanya anak muda itu lebih inovatif.”” Jangan melihat umur tapi kemampuan. Belum tentu semua anak muda bagus dan belum tentu yang senior itu jelek. Saya lebih seneng bila kita memberi ruang yang sama, dan disitu ada sinergi yang bisa membuat kota ini bukan sekedar naik tapi melompat,” tambahnya.
Surabaya tentu membutuhkan terobosan-terobosan, sehingga jangan sampai Wali kota yang baru ini terjebak dalam bayang-bayang Wali kota yang lama.” Tunjukkanlah dengan membentuk tim yang bagus tapi menjunjung profesionalisme,” tegas Imam kembali.
Jangan hanya karena “berjasa” tapi tidak kompeten ditaruh ditempat yang lebih baik. Sebaliknya, ada yang kompeten tapi kemarin dianggap tidak berjasa bahkan di kubu yang lain maka dia disingkirkan.” Mohon di Surabaya tidak terjadi seperti ini, karena di daerah lain justru ada yang melalui lelang jabatan,” ungkapnya.
Imam mengharapkan, saat akan melakukan pengangkatan kepala Dinas, Wali kota memberikan beberapa pilihan calon dan tranparansi proses pemilihannya sehingga masyarakat juga tahu kelayakannya.” Sekarang bukan jamannya tiba-tiba diumumkan yang jadi kepala dinas adalah ini, dan akhirnya terjadi kegaduhan akibat dugaan like and dislike atau ketidak profesionalan,” pungkas Imam. Nar



