Penulis: Adam Axel Adhipramana
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Airlangga
email: adamaxel2019@gmail.com
Zonajatim.com, Sidoarjo – Banjir merupakan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Sidoarjo. Hujan yang tiada henti di daerah Sidoarjo dan sekitarnya beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir dimana-mana.
Sungai yang tersumbat akibat membuang sampah sembarangan ialah salah satu penyebab banjir, serta kurangnya daerah resapan air di Sidoarjo sehingga banyaknya rumah warga yang terendam banjir. Musibah banjir ini tidak kunjung tuntas dari dulu.
Artikel ini bertujuan untuk menganalisa faktor-faktor penyebab terjadinya banjir 3 hari tak kunjung surut, dampaknya pada masyarakat sekitar saran solusi untuk mengurangi risiko banjir serupa di masa depan.
Pada akhir Desember 2024, Kabupaten Sidoarjo diguyur hujan deras selama 3 hari. Hal ini mengakibatkan banjir di sejumlah desa yang ada di Sidoarjo diantaranya pada Kawasan Kecaatan Waru, Kecamatan Candi, Kecamatan Tanggulangin, dan Kecamatan Taman sehingga banyak rumah warga yang terendam banjir.
Tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi masyarakat juga terhambat untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Banyak warga yang mengeluhkan hal seperti ini untuk mendesak agar pemerintah Sidoarjo untuk turun tangan mengatasi musibah bencana ini.
Sejumlah desa di Sidoarjo yang terdampak banjir mengalami kerusakan infrastruktur seperti banyaknya jalan berlubang hingga gangguan kesehatan yang cukup serius.

Banjir yang mencapai 70 sentimeter menyebabkan warga-warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka yang terendam banjir. Kondisi ini menambah beban pemerintah daerah dalam menyediakan penampungan sementara dan bantuan logistik. Proses pemulihan rumah yang rusak atau tergenang banjir membutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar.
Kerugian ekonomi akibat banjir sangat terasa terutama pada sektor industri. Sektor industri juga terdampak, terutama bagi pabrik yang terletak di kawasan banjir. Proses produksi terhambat, peralatan rusak, dan distribusi barang terhambat yang menyebabkan kerugian finansial.
Serta masyarakat tidak bisa melakukan kegiatan berjualan sehingga pendapatan menurun, selain kerugian ekonomi, banjir juga memengaruhi kesehatan dan keselamatan masyarakat. Dampak banjir juga meningkatkan risiko pencemaran penyakit, terutama yang terkait dengan air seperti diare.
Trauma sosial juga menyebabkan banyak keluarga yang terdampak banjir sering kali mengalami trauma psikologis akibat kehilangan harta benda dan kerusakan rumah.
Kondisi Drainese yang tidak optimal juga belum sepenuhnya mampu menangani volume air yang besar dalam waktu singkat. Banyaknya saluran air yang tersumbat oleh sampah, pengdangkalan sungai, dan pembangunan yang tidak memperhatikan aspek ekologis mnyebabkan aliran air terhambat.
Untuk mengatasi tantangan masalah banjir yang tak kunjung selesai selama 3 hari , penulis memberikan beberapa Langkah yang harus diimplementasikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo antara lain:
- Peningkatan Infrastruktur Drainese dan Menambah Tempat Resapan Air.
Pemerintah Kabupaten (PEMKAB) Sidoarjo perlu meningkatkan dan memperbaiki sistem drainese dengan memastikan sistem drainese dengan memastikan saluran air tidak tersumbat, dan memperbesar kapasitas drainese di wilayah-wilayah yang rawan banjir. Pemeliharaan rutin terhadap saluran air sangat penting untuk mencegah banjir. - Pemerintah Harus Turun Tangan Ke Lokasi.
Pemerintah Kabupaten (PEMKAB) Sidoarjo dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) perlu turun tangan ke lokasi banjir untuk melihat situasi dan berkomuniksi secara langsung dengan masyarakat yang terdampak banjir. - Bantuan Sembako.
Pemerintah Kabupaten (PEMKAB) Sidoarjo harus memberikan bantuan berupa sembako dan uang untuk warga yang terdampak musibah banjir - Memberikan Pendidikan dan Penyuluhan Kepada Warga.
Masyarakat harus mengerti tentang Pendidikan tentang mitigasi banjirdan kesiapsiagaan bencana harus diperkenalkan sejak dinikepada masyarakat. Pemerintah Sidoarjo juga perlu memberikan pelatihan dan fasilitas evakuasi untuk warga yang tinggal di daerah rawan banjir, serta menghimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.
Banjir yang terjadi di Sidoarjo selama 3 hari pada tanggal 24 Desember 2024 merupakan dampak dari beberapa factor yang saling berinteraksi, termasuk perubahan iklim, ketidakmampuan infrastruktur dalam menangani curah hujan yang tinggi, dan urbanisasi yang tidak terkelola dengan baik. Untuk mengurangi risiko banjir di masa depan, diperlukan upaya koordinasi atau kerjsama dari pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk meningkatkan sstem drainese, menambah tempat resapan air, dan mitigasi perubahan iklim. Penanganan masalah banjir secara menyeluruh akan memastikan keberlanjutan kehidupan yang lebih aman dan nyaman bagi masyarakat Sidoarjo. *



