ZonaJatim.com, Surabaya – Menggejalanya pemakaian kata ‘mbois’ untuk memberi sifat keren terhadap segala sesuatu di wilayah Surabaya dan sekitarnya tak lain pengejawantahan budaya urban. Bukan cuma kuliner, barbershop, musik, fesyen, pariwisata, bahkan gerakan apa pun yang antimainstream, semuanya dilabeli kata ‘mbois’.
Dunia politik pun tak mau ketinggalan. Kali ini maskot Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwali) Surabaya 2024, juga dinamai Si Mbois. Nama maskot ini merupakan akronim dari “Siap Memilih dan Berdemokrasi untuk Surabaya”.
Maskot ini mengambil bentuk karakter buaya, hewan ikonik yang erat kaitannya dengan Kota Surabaya. Tampil dengan gaya milenial namun tetap menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal, Si Mbois mengenakan atasan lengan panjang kasual berwarna orange, warna khas KPU.
Penampilannya semakin cerdas dengan kacamata nan estetik dengan kombinasi udeng khas Surabaya serta balutan jarik bercorak batik semanggi.Secara keseluruhan, maskot Si Mbois karya Dedy Ranggameda ini mencerminkan karakter warga Surabaya sebagai warga kota metropolitan yang cerdas, peduli, dan bijak dalam menentukan calon pemimpinnya di gelaran Pilwali Surabaya, pada 27 November 2024 mendatang.
Nilai filosofis yang diusung Ronggo –sapaan Dedy Ranggameda– itulah hingga membuat Si Mbois terpilih sebagai pemenang dalam lomba cipta maskot yang digelar KPU Kota Surabaya untuk kepentingan sosialisasi penyelenggaraan Pemilihan 2024. Selain maskot, juga dilombakan pembuatan jingle dan lagu mars terkait hajat Pilwali di Kota Pahlawan.
Bukan tanpa alasan. Setidaknya maskot Si Mbois cocok untuk menggaet pemilih muda. Sesuai data KPU Kota Surabaya, pemilih Gen Z mencapai 21% dan milenial 23,3% dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 2.218.586 jiwa pada Pemilu 2024.”Pengambilan kata Mbois sendiri agar lebih dekat dengan milenial. Terlebih, dalam bahasa Suroboyoan, kata ini juga kerap dipakai oleh anak muda karena memiliki arti keren,” papar Ronggo, Jumat (26/7/2024).
Sementara Komisioner KPU Kota Surabaya Subairi yang mengampu Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM, mengatakan ditetapkannya maskot Buaya ini sekaligus bertujuan untuk bisa meningkatkan partisipasi pemilih, khususnya di kalangan muda sehingga berkenan menggunakan hak pilihnya di Pilwali Surabaya 2024.
“Maskot itu dicetak sebagai boneka, kostum badut, desain kaos maupun gantungan kunci, sebagai suvenir. Semuanya guna kepentingan sosialisasi Pilkada Surabaya,” ucapnya.
Pada kesempatan terpisah, Ketua KPU Kota Surabaya, Suprayitno menyebut gencarnya sosialisasi yang dirancang pihaknya menargetkan angka partisipasi masyarakat mau menggunakan hak pilihnya pada hati-H Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur serta Walikota dan Wakil Walikota Surabaya sebesar 75 persen, setara dengan target nasional.
“Target partisipasi pemilih juga mencakup para pemilih pemula, pemilih muda kalangan Gen Z dan milenial. Karenanya, sosialisasi terhadap kelompok ini gencar dilakukan,” ujarnya.
Selain maskot Si Mbois, rencananya KPU Kota Surabaya juga hendak meluncurkan Tahapan, Jingle, dan lagu Mars Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Surabaya 2024, dikemas dalam gelaran musik, tari dan stund up comedy di gedung Conversation Hall di Jl Arif Rahman Hakim 131 Surabaya, Jumat (26/7/2024) malam. dur



