Zonajatim.com, Sidoarjo – Siang itu, aktivitas di kawasan Puspa Agro, Sidoarjo, berjalan seperti biasa. Truk pengangkut hasil pertanian keluar masuk kawasan, sementara sejumlah lapak tampak melayani transaksi. Di balik rutinitas tersebut, tersimpan rencana besar yang hingga kini belum juga terwujud.
Di ruang kerjanya, Direktur Utama PT Puspa Agro, Muhammad Agus Muslim, memaparkan arah pengembangan badan usaha milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur tersebut. Ambisi menjadikan Puspa Agro sebagai pusat perdagangan modern sekaligus kawasan layanan karantina nasional telah disiapkan. Namun, satu kendala utama masih membayangi: pendanaan.

Menurut Agus, kajian akademis revitalisasi telah rampung sejak 2024 melalui kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Dokumen tersebut memuat konsep penataan kawasan, desain bangunan, hingga fungsi setiap zona yang direncanakan untuk dikembangkan pada periode 2025–2030.
“Narasi, konsep bangunan, fungsi kawasan, semuanya sudah selesai. Tetapi pelaksanaannya tetap membutuhkan investor karena nilai investasinya cukup besar,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Sembari menunggu kepastian investor, Puspa Agro tidak tinggal diam. Pengelola mulai menyiapkan kawasan sebagai bagian dari pengembangan layanan Badan Karantina Indonesia (Barantin). Rencana itu menjadi tindak lanjut setelah kerja sama yang diresmikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding.
Ke depan, kawasan tersebut tidak lagi hanya melayani komoditas perikanan. Layanan karantina untuk hewan dan tumbuhan juga akan dipusatkan di Puspa Agro sehingga kawasan ini diproyeksikan menjadi sentra karantina terpadu.
Agus mengatakan, sebelum perluasan kawasan sekitar 20 hektare dilakukan, fasilitas yang telah tersedia akan dimanfaatkan terlebih dahulu. Sejumlah lahan yang selama ini belum produktif akan dioptimalkan untuk mendukung aktivitas Barantin.
“Masih banyak lahan yang sudah dipaving tetapi belum dimanfaatkan. Konsepnya diarahkan untuk mendukung perluasan layanan Barantin,” katanya.
Upaya lain yang tengah dilakukan ialah mengoptimalkan aset guna menambah pendapatan perusahaan. Sebagian lahan direncanakan dialihfungsikan untuk kegiatan usaha di sektor pangan dan produk makanan, sehingga kawasan tidak hanya bergantung pada aktivitas pasar induk.
Di tengah berbagai rencana pengembangan tersebut, kondisi keuangan perusahaan masih menghadapi tantangan. Agus mengakui beban piutang lama masih memengaruhi laporan keuangan perusahaan.
Meski demikian, secara operasional Puspa Agro disebut masih mampu membukukan kinerja positif apabila beban piutang tersebut tidak diperhitungkan.
“Kalau tanpa dibebani piutang, sementara ini tetap positif, tetapi belum sampai Rp100 juta,” ungkapnya.
Saat ini, pemasukan perusahaan masih didominasi dari sektor penyewaan. Karena itu, optimalisasi aset dan percepatan pengembangan kawasan diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru yang mampu meningkatkan pendapatan sekaligus menghidupkan kembali peran Puspa Agro sebagai pusat distribusi pangan strategis di Jawa Timur. Yd


